Laman

Rabu, 08 Desember 2010

Pudarnya Bahasa Minang


Seperti kita ketahui, Bahasa Minang atau sering di katakan dengan Bahas Pasang adalah merupakan bahasa resmi yang di pakai sehari-hari oleh masyarakat Sumatera Barat. Ini adalah merupakan identitas tidak resmi bagi masyarakat Minang. Kenapa tidak, karena bahas ini mempunyai ciri khusus dari dialek pengucapannya. Bahkan ketika seseorang orang Minang ini menuturkan Bahasa Indonesia, acap kali mereka akan ketahuan kalau mereka ini adalah orang Minang.

Bahasa Minang secara umum memiki ciri tersendiri dari sekian banyak bahasa dari berbagai suku bangsa di Nusantara ini. Namun secara spesifik, sebenarnaya bahasa ini mempunyai beragam kosakata dan dialek dalam penguucapannya, tergantung daerah dimana seseorang tersebut tinggal. Seperti, Bahasa Minang, di Kota Bukittinggi (Bahasa Kurai), Bahasa Minang di Payakumbuh dan Kab. 50 Kota, Bahasa Minang di Kab. Tanah Datar (Batusangkar), Bahasa Minang pesisir (untuk orang-orang yang tinggal di sepanjang pesisir pantai wilayah Sumatera Barat).

Namun sungguhpun ragam dalam Bahasa Minang tersebut cukup banyak, akan tetapi setiap orang Minang ini dapat berkomunikasi sesame mereka dengan menggunakan bahasa mereka sendiri-sendiri. Dan kebanyakan dari mereka dapat mengetahui daerah asal lawan bicara mereka dari hanya mendengarkan dialek yang digunakan.

Namun sayangnya, penggunaan Bahasa Minang ini dapat dirasakan telah mulai memudar, bukan hanya di luar Sumatera Minang saja bahkan di daerah asalnya sendiripun. Walaupun sebagian besar dari mereka yang tinggal di wilayah Sumatera Barat masih fasih ber-Bahasa Minang, namun ciri dari dialek asal mereka telah mulai berkurang, bahkan sekarang Bahasa Minang sekarang ini nyaris telah menjadi satu, tanpa ada perbedaan kosakata maupun dialeknya masing-masing.

Mungkin beberapa faktor yang mempengaruhi pudarnya Bahasa Minang ini adalah, banyaknya orang minang yang pergi merantau ke luar dari Sumatera Barat, seperti, Jakarta, Medan, Surabaya, dan banyak lagi kota-kota maupun daerah di Nusantara ini, bahkan sampai ke luar negeri. Sehingga mereka yang telah lama tinggal dan menetap di rantau, telah terkontaminasi dengan bahasa yang di pergunakan sehari-hari di tempat mereka tinggal dan menetap tersebut. Dan kebanyakan dari keturunan mereka ini tidak dapat menuturkan Bahasa Minang ini, walaupun sebagian dari mereka dapat memahaminya.

Faktor kedua dapat dipengaruhi dari kebiaasaan ‘orang sekarang’ yang mengajarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari kepada anak-anak mereka. Inilah sebenarnya faktor penyebab yang amat disayangkan sekali, bagaimana tidak, mungkin bagi mereka yang pergi merantau ke luar daerah, dan tidak lagi fasih dalam menuturkan Bahasa Minang, masih dapat dimaklumi. Namun bagi mereka yang tinggal di kampung halaman, yang seharusnya menjaga dan melestarikan budaya sendiri, justru merekalah yang menyebabkan pudarnya suatu budaya tersebut.

Dengan cara mereka mengajarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu kepada anak-anaknya, walaupun dengan alas an “toh mereka kelak aan dapat mempelajarinya dari pergaulan sehari-hari”. Namun apabila di suatu kawasan hunian telah berbuat hal yang sama, apakah anak-anak mereka ini masih dapat belajar Bahasa Minang sesuai dengan dialek sebagai ciri khas asal mereka…????

Jangankan mereka yang dari kecil yang diajarkan dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, sedangkan mereka yang dari kecil diajarkan dengan ber-Bahasa Minang saja, masih saja beberapa kosakata-kosakata lama dari Bahasa Minang sangat jarang kita dengarkan. Apalagi mereka yang dari kecil tidak pernah mengenal Bahasa Minang.

Ironis memang, namun inilah fakta yang sering kita temui pada ssat ini, dan ini dapat berpengaruh terhadap unsure-unsur budaya yang lain. Kenapa tidak, untuk hanya sekedar bahasa saja mereka sudah mulai melupakan, bagaimana dengan unsure-unsur budaya yang lain…????

Mungkin seharusnya kita dapat belajar dari suku bangsa lain di Nusantara ini, bagaimana mereka dapat menjaga eksistensi budaya mereka. Contohnya seperti orang Batak, sampai saat ini mereka dapat menjaga kebiasaan budaya mereka, walaupun mereka ini tinggal dan menetap di luar daerah asal mereka. Bagaimana dengan kita….????

Wallahu’lam…..

2 komentar: