Laman

Selasa, 28 Desember 2010

Dream Theater - Funeral for a Friend - Love Lies Bleeding

The roses in the window box
Have tilted to one side
Everything about this house
Is gonna grow and die

Well it doesn’t seem a year ago
To this very day
You said sorry honey
If I don’t change the pace
I can’t face another day

[chorus:]
And love lies bleeding in my hand
Oh it kills me to think of you with another man
I was playing rock and roll and you were just a fan
When my guitar couldn’t hold you
So I split the band
Love lies bleeding in my hands

I wonder if those changes
Have left a scar on you
All the burning hoops of fire
That you and I passed through

You’re a bluebird on a telegraph line
I hope you’re happy now
While if the wind of change coming down your way girl
You’ll make it back somehow

[chorus]
[chorus]
Love lies bleeding in my handspowered

Dream Theater - The Spirit Carries On

Dream Theater

A
D D/F#

Where did we come from? Why are we here?

G D D/C#

Where do we go when we die?

Bm Bm/A

What lies beyond? What lay before?

E/G# A4 A

Is anything certain in life?

A:

They say life is too short the here and the now,

and you’re only given one shot.

But could there be more? Have I lived before?

Or could this be all that we’ve got?

B:

Chorus:

G A D D/C# Bm
If I die tomorrow, I’d be all right because I believe

G Em D
that after we’re gone, the spirit carries on

(interlude)

D D9 D4 Em .
D D9 D4 A4 (drums)

A:

I used to be frightened of dying.

I used to think death was the end.

But that was before, I’m not scared anymore.

I know that my soul will transcend.

A:

I may never find all the answers,

I may never understand why.

I may never prove what I know to be true,

but I know that I still have to try.

B:

CHORUS:

If I died tomorrow I’d be all right because I believe

G Em D D7

that after we’re gone, the spirit carries on

C:

Em D#

Move on, be brave! Don’t weep at my grave!

D E

because I’m no longer here.

G Em Bm
But please never let your memory of me disappear.

Guitar Solo

Same chords

A:

Safe in the light that surrounds me.

Free of the fear and the pain.

The question in mind has helped me to find

the meaning in my life again.

A:

Victoria’s real! I finally feel

at peace with the girl in my dreams.

And now that I’m here, it’s perfectly clear

I’ll find out what all of this means.

B:

Chorus:

If I died tomorrow I’d be all right because I believe

G Em D

that after we’re gone, the spirit carries on

ENDING

D G Em
D G A
D G Em
D G A D

Rabu, 22 Desember 2010

D’Dreams – Aku Masih

Ku tahu engkau terluka

Karena kelakuanku ini

Bukannya aku sengaja

Menyakitimu

Tapi dia telah menggelapkan mataku

Hingga aku ’kan terlupa

Akan semua cintaku padamu

[*]

Aku masih mencintaimu

Masih menginginkanmu

Menjadi kekasih yang terindah dihatiku

[**]

Penyesalan ini

Tulus dari hatiku

Lupakan semua dan mohon maafkan aku

Bukannya aku sengaja

Khianati cintaku

Back to [*][**]

Maafkan aku

Rabu, 08 Desember 2010

Pudarnya Bahasa Minang


Seperti kita ketahui, Bahasa Minang atau sering di katakan dengan Bahas Pasang adalah merupakan bahasa resmi yang di pakai sehari-hari oleh masyarakat Sumatera Barat. Ini adalah merupakan identitas tidak resmi bagi masyarakat Minang. Kenapa tidak, karena bahas ini mempunyai ciri khusus dari dialek pengucapannya. Bahkan ketika seseorang orang Minang ini menuturkan Bahasa Indonesia, acap kali mereka akan ketahuan kalau mereka ini adalah orang Minang.

Bahasa Minang secara umum memiki ciri tersendiri dari sekian banyak bahasa dari berbagai suku bangsa di Nusantara ini. Namun secara spesifik, sebenarnaya bahasa ini mempunyai beragam kosakata dan dialek dalam penguucapannya, tergantung daerah dimana seseorang tersebut tinggal. Seperti, Bahasa Minang, di Kota Bukittinggi (Bahasa Kurai), Bahasa Minang di Payakumbuh dan Kab. 50 Kota, Bahasa Minang di Kab. Tanah Datar (Batusangkar), Bahasa Minang pesisir (untuk orang-orang yang tinggal di sepanjang pesisir pantai wilayah Sumatera Barat).

Namun sungguhpun ragam dalam Bahasa Minang tersebut cukup banyak, akan tetapi setiap orang Minang ini dapat berkomunikasi sesame mereka dengan menggunakan bahasa mereka sendiri-sendiri. Dan kebanyakan dari mereka dapat mengetahui daerah asal lawan bicara mereka dari hanya mendengarkan dialek yang digunakan.

Namun sayangnya, penggunaan Bahasa Minang ini dapat dirasakan telah mulai memudar, bukan hanya di luar Sumatera Minang saja bahkan di daerah asalnya sendiripun. Walaupun sebagian besar dari mereka yang tinggal di wilayah Sumatera Barat masih fasih ber-Bahasa Minang, namun ciri dari dialek asal mereka telah mulai berkurang, bahkan sekarang Bahasa Minang sekarang ini nyaris telah menjadi satu, tanpa ada perbedaan kosakata maupun dialeknya masing-masing.

Mungkin beberapa faktor yang mempengaruhi pudarnya Bahasa Minang ini adalah, banyaknya orang minang yang pergi merantau ke luar dari Sumatera Barat, seperti, Jakarta, Medan, Surabaya, dan banyak lagi kota-kota maupun daerah di Nusantara ini, bahkan sampai ke luar negeri. Sehingga mereka yang telah lama tinggal dan menetap di rantau, telah terkontaminasi dengan bahasa yang di pergunakan sehari-hari di tempat mereka tinggal dan menetap tersebut. Dan kebanyakan dari keturunan mereka ini tidak dapat menuturkan Bahasa Minang ini, walaupun sebagian dari mereka dapat memahaminya.

Faktor kedua dapat dipengaruhi dari kebiaasaan ‘orang sekarang’ yang mengajarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari kepada anak-anak mereka. Inilah sebenarnya faktor penyebab yang amat disayangkan sekali, bagaimana tidak, mungkin bagi mereka yang pergi merantau ke luar daerah, dan tidak lagi fasih dalam menuturkan Bahasa Minang, masih dapat dimaklumi. Namun bagi mereka yang tinggal di kampung halaman, yang seharusnya menjaga dan melestarikan budaya sendiri, justru merekalah yang menyebabkan pudarnya suatu budaya tersebut.

Dengan cara mereka mengajarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu kepada anak-anaknya, walaupun dengan alas an “toh mereka kelak aan dapat mempelajarinya dari pergaulan sehari-hari”. Namun apabila di suatu kawasan hunian telah berbuat hal yang sama, apakah anak-anak mereka ini masih dapat belajar Bahasa Minang sesuai dengan dialek sebagai ciri khas asal mereka…????

Jangankan mereka yang dari kecil yang diajarkan dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, sedangkan mereka yang dari kecil diajarkan dengan ber-Bahasa Minang saja, masih saja beberapa kosakata-kosakata lama dari Bahasa Minang sangat jarang kita dengarkan. Apalagi mereka yang dari kecil tidak pernah mengenal Bahasa Minang.

Ironis memang, namun inilah fakta yang sering kita temui pada ssat ini, dan ini dapat berpengaruh terhadap unsure-unsur budaya yang lain. Kenapa tidak, untuk hanya sekedar bahasa saja mereka sudah mulai melupakan, bagaimana dengan unsure-unsur budaya yang lain…????

Mungkin seharusnya kita dapat belajar dari suku bangsa lain di Nusantara ini, bagaimana mereka dapat menjaga eksistensi budaya mereka. Contohnya seperti orang Batak, sampai saat ini mereka dapat menjaga kebiasaan budaya mereka, walaupun mereka ini tinggal dan menetap di luar daerah asal mereka. Bagaimana dengan kita….????

Wallahu’lam…..

Minggu, 05 Desember 2010

LAMUNANKU

Seketika kutersadar dari lamunan, ketika kulihat mentari telah mulai condong ke ufuk barat. Ternyata aku telah melewati hari ini dengan tanpa berbuat suatu apapun. ku hanya bermenung seharian, tanpa suatu aktifitas yang berarti, yang dapat menghasilkan apapun.

Dengan langkah gontai dan sedikit malas, aku pun melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk hanya sekedar membasahi tubuh ini dengan beberapa gayung air. Dingin...ya dingin, begitu terasa air yang mengalir di tubuh ini. setelah selesai mandi, dengan sisa keengganan aku pergi ke warung sebelah, hanya untuk memenuhi tuntutan perut yang mulai keroncongan, karena belum ada sesuatu apa pun yang masuk ke lambung ini.

Setelah selesai makan,kembali kulangkahkan kaki ke rumah dan langsung menuju kamarku yang sempit dan pengap. Ku petik sebatang rokok, sambil melanjutkan lamunan yang tadi sempat tertunda. Kembali beberpa kilatan kelam terlintas dalam pikiran ini, tanpa  bisa kukendalikan melalui pikiranku sendiri. Beberapa bayangan kelam masa lalu mulai mengganggu pikiranku. Tanpa terasa, air mata ini tak dapat kutahan lagi, sehingga berlinangan, dan mengalir begitu saja. 

Tanpa terasa aku mulai terhanyut lagi dengan perasaanku sendiri. Hingga aku tersadar ketika suara azan magrib berkumandang. Aku pun tersentak, seolah ada sebuah suara yang menegurku dan memberikan sebuah solusi. Kembali kulangkahkan kembali kaki ini menuju kamar mandi, dan dengan perlahan mulai kubasuh beberapa bagian tubuh ini. Kembali ku kekamar, kubentangkan sajadah, dengan di mulai Allahh Akbar kutunaikan ibadah magrib, setelah sekian lama tidak pernah kulakukan.

Setelah selesai melakukan shalat, mulai kumerasakan ketenangan dan kedamaian dalam jiwa ini. Perlahan bayangan kelam masa laluku mulai dapat ku hilangkan dari pikiran ini. Seketika, segala semangat positif dari diriku mulai menyeruak membangkitkan gairah jiwa ini yang telah lama pudar. Dengan niat yang kuat, kumulai menyusun rencana yang akan ku lakukan untuk esok hari, dan dengan langkah pasti mulai ku tinggalkan masa lalu yang kelam.

Terima Kasih Ya Allah, telah kau sadarkan aku dari keterpurukan dan masa lalu yang kelam. Bimbinglah langkahku ini kemabali ke jalan-MU.....

Bukan Dengan Memindahkan Ibukota


Belakangan ini marak wacana untuk memindahkan ibukota yang notabene adalah memindahkan pusat pemerintahan negara. Berbagai model pun diusulkan, contohnya Putrajaya-Malaysia atau Canberra-Australia. Para pakar yang kompeten di bidang tata kota pun sudah menghitung-hitung biayanya. Kurang lebih 50 Trilyun rupiah diperkirakan akan membuat rencana ini menjadi nyata. Soal pendanaan pun sudah dipikirkan oleh para pakar keuangan negara. Menurut mereka nominal 50 Trilyun Rupiah itu bisa dicicil selama 5 tahun anggaran APBN. Asal tahu saja 50 Trilyun rupiah itu juga setara dengan jumlah devisa yang dihasilkan para Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia selama setahun.

Pindah Ibukota?
Adalah hal yang lumrah bagi negara federal semacam AS, Australia, Canada bahkan Malaysia untuk tidak memiliki ibukota yang penuh sesak seperti Jakarta. Bandingkan dengan negara sentralistis lain seperti Perancis, Jepang dan Thailand. Tampaknya ke tiga negara ini menghadapi problem yang sama dengan Indonesia. Ibukota mereka pun multifungsi sebagaimana Jakarta: pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat hiburan sekaligus pusat pendidikan. Bedanya, mereka sudah jauh-jauh hari mempersiapkan ibukotanya untuk tetap layak ditinggali dengan membangun jaringan transportasi massal yang siap melayani warganya.
Lalu bagaimana dengan Indonesia. Haruskah memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta menjadi satu-satunya solusi untuk mengatasi kemacetan ibukota yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Jakarta bahkan telah berevolusi menjadi kota besar yang sangat tidak manusiawi, terutama di jam-jam kerja.
Akar Permasalahan
Jika kita merunut ke akar permasalahan, tampaklah jelas penyebab mengapa orang pergi berduyun-duyun mencari kerja dan kemudian berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Tidak lain tidak bukan adalah karena Jakarta telah menjelma menjadi “satu-satunya” pusat pertumbuhan yang sedemikian hebat menyedot SDM dari seluruh penjuru negeri. Ibarat sekarung besar gula yang tidak punya saingan, para semut pun berkerumun mengerubunginya dari segala arah.
Cobalah kita lihat Jakarta dalam aspeknya sebagai kota jasa. Hampir semua industri yang bergerak di sektor jasa berpusat di sini. Kita boleh mendata sektor Telekomunikasi, Perbankan, Keuangan, Transportasi, Lembaga Penyiaran, Perdagangan dan Pendidikan. Bahkan di kota-kota satelit Jakarta seperti Tangerang, Bekasi dan Cileungsi menjadi pusat-pusat manufaktur.
Imbas dari semua sektor yang berpusat di satu kawasan ini tentu saja adalah tersedotnya sejumlah besar manusia untuk bekerja dan mencari hidup disini. Efek turunannya tentu saja masalah perumahan dan transportasi, karena dua hal ini termasuk daftar teratas kebutuhan hidup manusia, khususnya pekerja. Efek turunan lapis kedua adalah berkembangnya sektor jasa yang lebih kecil dan sifatnya menyebar, contohnya usaha penyediaan konsumsi seperti warung tegal dan rumah makan padang. Usaha-usaha semacam ini akan mengisi setiap celah pemukiman dan perkantoran. Kebutuhan terhadap servis tenaga kebersihan dan keamanan pun melengkapi efek-efek turunan ini. Keseluruhnya berkait kelindan dalam sebuah lingkaran setan yang tidak henti-hentinya menyuplai jumlah manusia ke Ibukota.

Silicon Valley
Pernahkah anda mendengar Silicon Valley di AS atau Hyderabad di India? Kedua kota ini merupakan kota-kota baru yang dibentuk untuk memusatkan satu jenis industri (dalam hal ini Teknologi Informasi) sekaligus menampung para pekerja di bidang tersebut.
Bayangkan jika Indonesia punya sekian Silicon Valley yang tersebar di pulau-pulau utama. Masing-masing Silicon Valley ini diperuntukkan khusus untuk satu atau dua sektor industri. Sebagai contoh, kita bisa memusatkan sektor Telekomunikasi di Bandung, sektor Keuangan di Medan, sektor Perbankan di Makassar, Hiburan dan Penyiaran di Palembang, dsb.
Kita tentu tidak asing dengan kota-kota seperti Washingtom, New York, Las Vegas, Chicago, Boston, Miami dan Hollywood di AS. Masing-masing kota itu dengan mudah dapat di identifikasi fungsinya. Untuk membuat hal yang sama terjadi di Indonesia sebenarnya tidaklah terlalu susah.
Kita sudah memiliki berbagai kota perusahaan yang dapat menjadi model. Kita memiliki Rumbai dan Dumai di Riau, Sangatta di Kalimantan Timur, Sorowako di Sulawesi Selatan dan Tembaga Pura di Papua. Bayangkan satu perusahaan yang menyediakan tempat tinggal di lingkungan pabriknya dapat berevolusi menjadi kota-kota baru yang punya kemampuan sama dengan Jakarta, yaitu menyedot manusia.
Jadi tidak berlebihan kiranya jika pemerintah memfasilitasi pembangunan sektor-sektor pertumbuhan yang menyebar di seluruh Indonesia. Kota-kota yang dibangun tidak usah besar-besar amat, yang penting punya akses transportasi dan telekomunikasi yang bagus. Sektor Telekomunikasi, Perbankan, Keuangan dan Perdagangan sangat-sangat tergantung dengan infrastruktur telekomunikasi ini. Selanjutnya, biarkan kota-kota baru tersebut berkembang secara alamiah. Kehidupan pasti akan mencari jalannya sendiri.
Solusi ini tentu lebih ideal daripada sekedar memindahkan pusat pemerintahan, dimana notabene memindahkan para Pegawai Negeri Sipil yang bekerja untuk pemerintah pusat. Total PNS yang bekerja untuk pemerintah pusat dan pemprov DKI saja jika ditotal hanya menyumbang 5% terhadap populasi Jakarta. Akan sangat tidak efisien jika mereka di tempat yang baru harus dibuatkan kantor-kantor yang baru, gedung DPR yang baru, istana presiden yang baru, kantor MK,BPK,KY,MA yang baru, dsb.

Nasib Jakarta Kemudian
Lalu bagaimana nasib Jakarta selanjutnya? Tidak usah khawatir. Jakarta masih bisa disulap menjadi kota wisata sejarah dan wisata belanja yang ramah lingkungan. Juga tetap bisa menjadi kota layanan kesehatan yang baik. Rumah sakit – rumah sakit diperbaiki fasilitasnya, gedung-gedung perkantoran jika bersisa disulap jadi hotel dan atau Universitas, ruang terbuka hijau diperbanyak, dan whalla … Jadilah Jakarta kota yang amat nyaman untuk dikunjungi dan dinikmati. Saya membayangkan Jakarta suatu hari akan menjadi Barcelona nya Indonesia.